Pencemaran Timbal (Pb) pada Ekosistem Sungai
Kelompok 6
Berliana Siva Imaniyah
Fajri Nur Aisyah Herawati
Ratasya Kinanti Putri Adiana
Salsa Putri Saraswati
Timbal (Pb) termasuk dalam kelompok logam yang beracun dan berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup. Limbah Timbal (Pb) dapat masuk ke badan perairan secara alamiah yakni dengan pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan. Penggunaan Pb dalam skala yang besar dapat mengakibatkan polusi baik di daratan maupun perairan. Logam Pb yang masuk ke dalam perairan sebagai dampak dari aktivitas manusia dapat membentuk air buangan atau limbah dan selanjutnya akan mengalami pengendapan yang dikenal dengan istilah sedimen. Sedimen merupakan lapisan bawah yang melapisi sungai, danau, teluk, muara dan lautan. Biasanya, kandungan logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan kandungan logam berat yang masuk ke dalam perairan yang akan mengalami pengendapan pada sedimen (Budiastuti, dkk 2016).
Sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang didalamnya terdapat beberapa komponen yang berinteraksi dan memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia (Yudo, 2010 dalam Arkianti, N, dkk., 2019). Menurut UU No. 32 Tahun 2009, yang dimaksud pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasuknya makhuk hidup, zat energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Pencemaran sungai ini dapat mengakibatkan buruknya kualitas sungai.
Adanya timbal yang masuk ke dalam ekosistem sungai tentu akan mempengaruhi biota perairan. Tingginya kandungan timbal dalam sedimen menyebabkan biota air tercemar seperti ikan, udang dan kerang, dan biota lainnya. Apabila biota sungai itu dikonsumsi tentu akan berdampak pada kesehatan. Timbal (Pb) memiliki sifat yang persisten dan toksik serta dapat terakumulasi dalam rantai makanan. Absorpsi timbal di dalam tubuh terjadi sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi dan menjadi dasar keracunan yang progresif. Keracunan timbal ini menyebabkan kadar timbal yang tinggi di dalam aorta, hati, ginjal, pankreas, paru-paru, tulang, limpa, testis, jantung dan otak (Darmono dalam Raharjo 2018). Hanya 15% dari jumlah timbal yang masuk dan senyawa timbal diserap oleh tubuh melalui saluran cerna. Jumlah timbal yang masuk melalui saluran pernafasan sebesar 30 %. Timbal yang masuk melalui makanan akan diikutkan ke dalam proses metabolisme tubuh. Ekskresi timbal berlangsung sangat lambat yang menyebabkan timbal akan mudah terakumulasi dalam tubuh.
Untuk mengurangi tingginya konsentrasi timbal diharapkan para aktivitas produksi untuk tidak membuang limbahnya ke perairan sungai. Sungai dapat memulihkan keadaanya sendiri. Hal itu biasanya disebut dengan self purification, yaitu kemampuan suatu sungai dari aktivitas biologis di dalamnya untuk menghilangkan bahan organik, nutrisi tanaman, atau pencemaran lainnya (Vandra, dkk 2016). Adanya tanaman eceng gondok juga dapat menyerap logam berat dalam air karena eceng gondok berfungsi sebagai bioakumulator yang dapat menyerap logam berat Pb, Zn, dan Mn melalui jaringan akar tumbuhan (Rahayu dalam Vandra, dkk., 2016).
DAFTAR PUSTAKA
Arkianti, N., Dewi, N. K., & Martuti, N. K. T. (2019). Kandungan logam berat timbal (Pb) pada ikan di Sungai Lamat Kabupaten Magelang. Life Science, 8(1), 54-63
Budiastuti, P, Raharjo, M, Astorina N. Y., D. (2016). Analisis Pencemaran Logam Berat Timbal di Badan Sungai Babin Kecamatan Genuk Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(1), 119
Raharjo, P., Raharjo, M., & Setiani, O. (2018). Analisis Risiko Kesehatan dan Kadar Timbal Dalam Darah:(Studi Pada Masyarakat yang Mengkonsumsi Tiram Bakau (Crassostrea gigas) di Sungai Tapak Kecamatan Tugu Kota Semarang). Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 17(1), 9-15.
Vandra, B., Sudarno, &Winardi,D. N. (2016). Studi Analisis Kemampuan Self Purification pada Sungai Progo Ditinjau dari Parameter Biological Oxygen Demand (BOD) dan Dissolved Oxygen (DO). Jurnal Teknik Lingkungan,5(4), 2-3
Comments
Post a Comment